Webinar Series #2

“Limbah Plastik Pendukung Sumber Daya Ekonomi Sirkular Menuju Indonesia Hijau” menjadi tajuk pada webinar kedua IESA tahun 2021. Webinar ini adalah dalam rangka memeringati Hari Bumi (World Earth Day), 22 April. Peringatan Hari Bumi adalah pengingat kembali pentingnya menyelamatkan bumi dari ancaman dan risiko yang ada. Tentunya hal tersebut perlu menggunakan cara-cara yang menjunjung tinggi nilai lingkungan dan kemanusiaan. Restore Our Earth yang menjadi semboyan tahun ini juga mengingatkan bahwa pemulihan bumi adalah suatu kebutuhan untuk generasi saat ini dan yang akan datang.

Pentingnya Kolaborasi

Salah satu hal yang mengakibatkan munculnya ancaman atau risiko kerusakan bumi adalah bertambahnya populasi penduduk. Dampak secara langsung dari pertumbuhan penduduk antara lain adalah meningkatnya jumlah sampah. Bukan saja jumlah timbulan sampah plastik, tetapi juga keterbatasan lahan untuk pengelolaan sampah. Hal tersebut banyak terjadi di kota-kota besar di dunia. Oleh sebab itu, upaya mitigasi untuk mengurangi sampah menjadi diperlukan. Salah satunya adalah pengelolaan sampah berbasis kolaborasi yang berpotensi meningkatkan sirkular ekonomi, ujar Yuki M.A Wardhana Ketua Umum Indonesian Environmental Scientist Association (IESA) pada pembukaan Webinar Limbah Plastik Pendukung Sumberdaya Ekonomi Sirkular Menuju Indonesia Hijau.

Kesiapan Rantai Pasok adalah Tantangan Terbesar

Di sisi lain, menurut Prof. Made Sudiana Mahendra dari Universitas Udayana, terdapat tantangan dalam penerapan kesiapan rantai pasok sampah untuk menjadikan sampah sebagai komoditi untuk membangkitkan sirkular ekonomi. Faktor budaya mengelola sampah plastik oleh masyarakat dan memasukkan pengelolaan sampah dalam rantai pasok produsen dapat menjadi salah satu faktor utama dalam membangkitkan sirkular ekonomi dari sampah.

Komitmen Jangka Panjang dari Hulu ke Hilir

Pada acara Webinar tersebut, Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk juga menyampaikan, “Di Unilever, kami percaya bahwa plastik memiliki tempatnya sendiri dalam ekonomi, tetapi tidak di lingkungan. Untuk itu, kami menerapkan komitmen jangka panjang untuk turut berkontribusi dalam mengatasi permasalahan sampah plastik mulai dari hulu hingga hilir rantai bisnis kami, termasuk dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular sehingga plastik bisa memiliki manfaat ekonomi dan tidak berakhir mencemari lingkungan.”

Nurdiana juga menyampaikan bahwa kolaborasi adalah kunci penting dalam kesuksesan penerapan ekonomi sirkular, “Dengan semangat #MariBerbagiPeran, kami sangat antusias bisa bergabung dalam webinar ini untuk bertukar ide dan inisiatif, berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di bidang permasalahan sampah plastik, dari mulai Pemerintah, akademisi, hingga masyarakat luas. Hal tersebut sejalan dengan strategi Unilever secara global yang bertajuk “The Unilever Compass.

Pendekatan Pengelolaan Sampah

Pendekatan pengelolaan sampah yang ada saat ini cukup mendukung. Saat ini umum berlaku tiga pendekatan, yaitu minim sampah (less waste), pelayanan dan teknologi, serta sirkular ekonomi. Khusus sirkular ekonomi, konsep dasarnya adalah persoalan sampah dapat diselesaikan dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya serta pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh dengan baik. Konsep sirkular ekonomi adalah pemikiran paling ideal karena Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebagai negara yang sedang menuju negara maju, ujar Ari Sugasri, Kasubdit Sampah Spesifik dan Daur Ulang KLHK.

Era Baru Kolaborasi dan Digitalisasi

Menjaga bumi dan memitigasi risiko terhadap bumi yang ditimbulkan oleh sampah tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah. Kolaborasi dengan seluruh pihak menjadi sangat penting. Sekarang ini, kolaborasi tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital. Itulah yang disebut sebagai era baru dalam penanganan dan pengelolaan sampah yang mulai banyak diupayakan saat ini, seperti yang dipaparkan oleh Putra Fajar Alam dari Smash.id.

Kolaborasi yang apik akan menciptakan manfaat ekonomi dan mewujudkan sirkular ekonomi sehingga dapat membantu tekanan ekonomi yang melanda masyarakat saat ini, tutup Yuki. Rekaman Webinar ini dapat disaksikan di Kanal YouTube IESA, sementara paparan dari narasumber dapat dilihat di sini

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.