Data Jenis Rumah Sakit Responden

SURVEI dilakukan oleh IESA (Indonesian Environmental Scientists Association) bekerjasama dengan PERSI Indonesia.

Periode Survei : 1 April sd 20 Mei 2020; Metode Survei dilakukan dengan Kwesioner

Informasi Responden

Sampai dengan tanggal 20 Mei 2020, jumlah responden yang masuk berjumlah 161 rumah sakit. Setelah dilakukan verifikasi, data yang dinyatakan valid berasal dari 133 responden, yang terdiri atas Rumah Sakit Umum, RS Khusus Jiwa, RS Khusus Mata, RS Khusus Ortophedi, RS Khusus Jantung, RS Khusus Gigi dan Mulut, dan RS Ibu dan Anak.

Peneliti tidak membatasi jenis rumah sakit, mengingat pandemic Covid 19 bisa berada di rumah sakit manapun. Data dari 133 rumah sakit tersebut sebagai berikut

Tabel 1 Data Jenis Rumah Sakit Responden

Data Jenis Rumah Sakit Responden

Ditambah 1 Rumah Sakit Darurat Covid Kemayoran.

Tabel 2 Jumlah Limbah Padat Medis sebelum dan di Era Covid

(dalam satuan kg)

Jumlah Limbah Padat Medis sebelum dan di Era Covid

Dari data yang diterima dan diolah, diketahui bahwa bed occupancy rata-rata dari keseluruhan responden adalah 64%. Jumlah rata-rata limbah medis per hari sebelum covid dari keseluruhan responden adalah 18,06 ton/hari, sedangkan pada era covid sd bln Mei, rata-rata total adalah 26,4 ton/hari atau meningkat sebesar 46%.

Untuk mendapatkan gambaran lebih tepat mengenai jumlah limbah medis yang dihasilkan selama era covid, perlu dianalisis secara terpisah untuk RS Rujukan Covid dan RS Non Rujukan. Berdasar data rumah sakit pada Tabel 1, diketahui bahwa jumlah responden RS Rujukan Covid sebanyak 72 unit. Pada RS Rujukan Covid, ditemukan bahwa tingkat occupancy sebesar 65% atau 14.211 TT dari 21.983 TT. Jumlah limbah medis rata-rata per hari sebelum covid adalah 13,6 ton/hari atau 0,96kg/TT; sedangkan pada era covid sd bulan Mei 2020, rata-rata total adalah 23 ton/hari atau 1,62 kg/TT. Terlihat bahwa terjadi peningkatan sebesar 70%.

Untuk RS Non Rujukan justru mengalami penurunan jumlah limbah medis sebesar -24% yaitu dari total rata-rata 4,5 ton/hari menjad 3,4 ton/hari.

Mengacu pada data timbulan limbah medis tersebut, dapat dihitung berapa potensi timbulan limbah di setiap wilayah. Khusus DKI Jakarta, terdapat RS Darurat CV yang memiliki kapasitas TT sebanyak 1700 TT. Namun data pada tanggal 15 Mei 2020 menunjukkan jumlah pasien yang dirawat sebanyak 825 orang. Sementara itu menurut Dr. Saptadji (Kompartemen Persi DKI Jakarta), jumlah limbah medis dan APD setiap hari dapat mencapai 150 kantong atau kurang lebih 5.271 kg ( 5 ton/hari). Dengan kata lain, setiap pasien di RSDV menyumbang 6kg limbah medis per hari.

Jika kita menggunakan data jumlah kasus Covid di DKI Jakarta, yaitu pada bulan Mei jumlah kasus positif adalah 3137 orang, maka potensi limbah medis yang dihasilkan dari kasus positif tersebut sebesar

(Jumlah Kasus x 6kg) + Jumlah limbah rata-rata per hari sebelum Covid yaitu sebesar 44.623 kg atau 44 ton per hari atau meningkat 72,86%.

Prediksi timbulan limbah juga dapat dilakukan dengan menghitung jumlah seluruh RS di DKI Jakarta yaitu jumlah rumah sakit pemerintah dan swasta tidak termasuk Faskes Primer ada 190 unit

Timbulan rata-rata sebelum covid = 190 x 135,80 kg = 25.801,4 kg
Timbulan rata-rata pada era covid = 190 x 198,71 kg = 37.755,5 kg
Timbulan khusus di RSDC Kemayoran = 5.271 kg
= 43.026,5 kg

Dari kedua pendekatan tersebut, kurang lebih kenaikan limbah medis di DKi Jakarta berada dikisaran 67% sd 73%.

 

Jakarta, 26 Juni 2020
Lina Tri Astuti (Sekjen IESA)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.